Selasa, 10 November 2020

AHLI - MEREKAM AKTIVITAS SEKS BUKAN PENYIMPANGAN



Belakangan ini masyarakat tengah digemparkan dengan beredarnya video syur mirip artis Gisella Anastasia dan Jessica Iskandar. Video tersebut tengah tersebar melalui media sosial.

Video yang telah menampilkan wajah wanita yang disebut mirip dengan Gisel dan Jessica atau Jedar itu pun juga trending di media sosial. Tentunya hal ini telah melahirkan banyak perundungan dari publik kepada Gisella Anastasia dan Jedar.

Zoya Amirin yang merupakan sebagai salah satu psikolog seksual kemudian memberikan tanggapannya mengenai hal ini. Kepada wartawan, ia menegaskan bahwa hubungan seks antara perempuan dan laki-laki merupakan hal yang lumrah dilakukan. Hal ini juga adalah hak yang tak harus mendapat penghakiman dari publik.

"Kalau ini kan adalah hak dan segala sesuatu yang dilakukan oleh dua orang gitu ya, jadi sebenarnya kan orang itu banyak yang double standar gitukan. Jadi saya tuh sangat miris ketika melihat orang menghakimi dan terutama yang selalu dihakimi itu artis-artis dalam video-video seks gitu," ucap Zoya, Senin (9/11/2020).

Perundungan-perundungan seperti ini sering sekali didapatkan oleh publik figur sejak kasus skandal Ariel NOAH pada tahun 2010. Bagi Zoya, publik akan dibutakan oleh status artis yang harus selalu menyandang hal positif. Hubungan seks di kalangan artis telah dianggap hal penyimpangan.

Terkait dengan kasus video syur yang tengah viral sedari dulu dianggap Zoya selalu menitik beratkan permasalahan kepada perempuannya. Caci maki sampai dengan ujaran kebencian lahir untuk mendiskriminasi satu pihak saja.



"Jadi kalau misalnya dari zaman Ariel sampai sekarang yang saya lihat orang itu bener-bener punya double standar," jelas Zoya.

"Orang bener-bener menghakimi, mencaci maki, perempuannya terutama di-judge lonte lah, murahan lah, ini itu tapi pada minta link-nya juga kan. Nggak ada pembelajaran," tambahnya.

Lebih lanjut tentang momen seks yang tengah diabadikan melalui video, bagi Zoya merupakan bukan hal yang menyimpang. Merekam video ketika tengah melakukan hubungan seks bisa menjadi salah satu cara dalam mengevaluasi diri dan pasangan.

"Ini bukan bagian dari penyimpangan ya, kecuali kalau dia harus merekam dulu kalau nggak ya nggak bisa hubungan seksual, itu baru penyimpangan," jelasnya.

"Tapi kan intinya gini, tujuan seks ada tiga, reproduksi, rekreasi dan relasi. Apakah dengan merekam ini akan menambah rekreasinya supaya tambah nikmat atau relasinya terjaga? Kalau nggak ya mendingan nggak usah deh gitu," imbuhnya.

Zoya juga turut menyoroti terkait dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat pada saat ini. Video-video seks dapat cepat tersebar dalam hitungan detik untuk mempermalukan satu orang korban. Hal ini turut membuat Zoya merasa sangat khawatir.

"Iya sebenarnya mungkin ini juga saya cukup deg-degan melihat kondisi teknologi yang kayak gini. Mungkin saya awalnya adalah orang yang sebenarnya percaya kalau itu adalah hak pribadi masing-masing, merekam hubungan intim itu hak pribadi masing-masing. Tapi yang saya khawatirkan ini penyimpanan dan hacker dan apapun itu bisa banget terjadi," ujar Zoya.

Walaupun begitu, keterbukaan pola pikir masyarakat perlu juga terus terasah dan beradaptasi sesuai dengan perkembangan zaman. Masyarakat diminta untuk tetap menelaah informasi yang didapat dan tak langsung menjatuhkan penghakiman terhadap korban.

"Ya coba di-reconsider aja untuk melakukan hal kayak gini. Tapi kalaupun sudah terjadi ya kayaknya sudah saatnya masyarakat untuk belajar," pungkas Zoya.





Previous Post
Next Post

0 komentar: