Diamond QQ - Penggunaan GeNose untuk melakukan deteksi dini Covid-19 sudah mulai diterapkan di beberapa stasiun, dan rencananya akan diberlakukan di bandara. Namun, GeNose sendiri masih diragukan keefektifannya oleh sejumlah ahli, terutama ahli epidemiologi.
Terkait hal itu, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan, GeNose dipastikan sudah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan sebelum digunakan untuk umum.
Sebelum mendapat izin, Bambang mengatakan GeNose telah melakukan uji validasi di hadapan para ahli yang mendampingi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan.
Kemudian GeNose juga menggunakan sampel dalam jumlah besar, sesuai permintaan Kementerian Kesehatan ada sekitar 2.000 sampel, kata Bambang saat berbicara di acara Redaksi Talk yang digelar Rabu (31/3/2021).
Hasilnya, GeNose menunjukkan tingkat sensitivitas 92 persen dan spesifisitas 90 persen. Selain itu, GeNose juga menggunakan pendekatan berbasis kecerdasan buatan, sehingga data di dalamnya selalu dapat diperbarui.
Menurut Bambang, semakin banyak GeNose digunakan, semakin banyak data yang dikumpulkannya dan membuatnya semakin pintar. Dengan data yang terkumpul, kemampuan GeNose seharusnya lebih akurat.
“Karena dikategorikan sebagai machine learning yaitu mesin yang terus belajar agar lebih canggih dan akurat. Dengan pendekatan kecerdasan buatan kita cukup memadai bahwa GeNose sangat bisa diandalkan,” kata Bambang.
Mempertanyakan kemungkinan adanya kesalahan, Bambang mengatakan cara lain tidak menutup kemungkinan memberikan hasil yang salah, mengingat sensitivitas dan spesifisitasnya yang tidak mencapai 100 persen.
“Jadi masih ada ruang untuk kesalahan, tapi ruangnya kecil,” lanjutnya. Meski demikian, Kemenristek tetap meminta UGM sebagai inventor untuk menjaga konsistensi produk, terutama saat memasuki industri dan berproduksi dalam jumlah banyak.
Pasalnya, menurut Bambang, terkadang permasalahan yang dihadapi bukan pada penelitian atau metodenya, melainkan pada produsen yang belum terbiasa membuat alat kesehatan. Padahal, alat kesehatan biasanya membutuhkan ketelitian dan detail yang sangat tinggi.
Penggunaan GeNose untuk melakukan deteksi dini Covid-19 sudah mulai diterapkan di beberapa stasiun, dan rencananya akan diberlakukan di bandara. Namun, GeNose sendiri masih diragukan keefektifannya oleh sejumlah ahli, terutama ahli epidemiologi.
Terkait hal itu, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan, GeNose dipastikan sudah mendapat izin edar dari Kementerian Kesehatan sebelum digunakan untuk umum.
Sebelum mendapat izin, Bambang mengatakan GeNose telah melakukan uji validasi di hadapan para ahli yang mendampingi Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan.
Kemudian GeNose juga menggunakan sampel dalam jumlah besar, sesuai permintaan Kementerian Kesehatan ada sekitar 2.000 sampel, kata Bambang saat berbicara di acara Redaksi Talk yang digelar Rabu (31/3/2021).
Hasilnya, GeNose menunjukkan tingkat sensitivitas 92 persen dan spesifisitas 90 persen. Selain itu, GeNose juga menggunakan pendekatan berbasis kecerdasan buatan, sehingga data di dalamnya selalu dapat diperbarui.
Menurut Bambang, semakin banyak GeNose digunakan, semakin banyak data yang dikumpulkannya dan membuatnya semakin pintar. Dengan data yang terkumpul, kemampuan GeNose seharusnya lebih akurat.
“Karena dikategorikan sebagai machine learning yaitu mesin yang terus belajar agar lebih canggih dan akurat. Dengan pendekatan kecerdasan buatan kita cukup memadai bahwa GeNose sangat bisa diandalkan,” kata Bambang.
Mempertanyakan kemungkinan adanya kesalahan, Bambang mengatakan cara lain tidak menutup kemungkinan memberikan hasil yang salah, mengingat sensitivitas dan spesifisitasnya yang tidak mencapai 100 persen.
“Jadi masih ada ruang untuk kesalahan, tapi ruangnya kecil,” lanjutnya. Meski demikian, Kemenristek tetap meminta UGM sebagai inventor untuk menjaga konsistensi produk, terutama saat memasuki industri dan berproduksi dalam jumlah banyak.
Pasalnya, menurut Bambang, terkadang permasalahan yang dihadapi bukan pada penelitian atau metodenya, melainkan pada produsen yang belum terbiasa membuat alat kesehatan. Padahal, alat kesehatan biasanya membutuhkan ketelitian dan detail yang sangat tinggi.
Situs Domino QQ Online | Agen Domino Qiu Qiu Online | Judi Domino QQ Online | Diamondqq


0 komentar: